Minggu, 14 April 2013

Guru yang Tahu Dia Tidak Tahu


Semua guru pasti pernah ditanya oleh muridnya (kecuali guru yang menutup pintu dialog). Berbagai pertanyaan dapat dilontarkan oleh murid, mulai yang dapat dijawab dengan mudah, samar-samar, sampai pertanyaan yang memang tidak bisa dijawab. Jika pertanyaan murid mudah dijawab, mungkin itu tidak menjadi masalah. Namun bagaimana jika ada murid yang pertanyaan yang benar-benar kita tidak tahu? Apa yang harus guru lakukan? Beberapa guru mungkin pernah merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini. 

Guru dengan tipe tidak siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan cenderung menutup diri dengan berbagai cara dan alasan.  “Pura-pura” sibuk tidak mau diganggu atau memberikan kesan terburu-buru, sehingga murid yang kritis akhirnya mengurungkan niatnya bertanya.  Beberapa guru mengalami krisis kepercayaan diri memang cenderung menghinggapi guru saat harus mengajar di kelas berlevel pandai.  Tidak heran bila ada guru yang menolak secara halus bila ditugaskan mengajar di kelas unggulan.

Realitas sesungguhnya Guru adalah manusia biasa, BUKAN ensiklopedia berjalan. Guru pasti punya keterbatasan dan guru pasti punya tepi. Masalahnya adalah bagaimana menyampaikan pada murid agar mereka paham dan mau menerima keterbatasan tersebut. Sejumlah “petuah” pernah dikemukakan guru-guru senior.  Seorang guru yang pengabdiannya hampir 20 tahun dengan bijak mengatakan“Jangan pernah jatuh dihadapan murid. Kalaupun harus jatuh, jatuhlah dengan indah”.  Sebuah nasihat yang sarat makna terutama bagi guru-guru pemula. Filosofinya sederhana, guru adalah sosok yang ditiru, digugu, dan diteladani, jadi guru tidak boleh “cacat”  di mata murid-muridnya. Singkatnya guru adalah sosok jelmaan ilmu pengetahuan yang sempurna.  

Petuah bijak dari guru senior ini dapat diartikan positif sebagai motivasi bagi guru untuk terus meng update isi kepalanya dengan berbagai pengetahuan. Pesan yang ingin disampaikan rekan guru adalah jangan pernah terlihat bodoh di depan murid. Seandainya guru memang tidak dapat memberikan jawaban cobalah memberikan saran dimana jawaban itu dapat ditemukan. Paul Brandwein pernah menyatakan bahwa guru seharusnya tidak berkata “Saya tidak tahu”, mereka harus berkata “Itu bukan bidang saya”. Mungkin Paul Brandwein bercanda.

Saya jadi teringat sebuah perkuliahan Dr Sutrisno dan Prof Dr Herawaty Susilo di Universitas Negeri Malang. Saat mengajar kedua dosen ini betul-betul mengajar tanpa beban.  Setiap pertanyaan mahasiswa yang memang tidak dapat mereka jawab selalu dikatakannya terus terang. “Saya belum tahu itu” atau “saya tidak tau”. Mahasiswa akhirnya bukannya memandang remeh beliau tapi justru berbalik mengagumi keterusterangan mereka. Saya jadi susah membedakan sisi postitif antara sikap berterus terang dengan sikap berpura-pura tahu jika ditinjau dari perspektif siswa. Misalnya apakah anak SMP siap menerima jika guru menjawab “saya tidak tahu”  atas pertanyaan mereka.  Apakah jawaban pragmatis itu justru tidak membunuh rasa ingin tahu siswa atau mengikis kepercayaan mereka pada guru?

Seorang penulis buku sains terkenal, Tik L. Liem menuliskan guru yang baik adalah guru memiliki rasa humor. Tidak berarti guru itu harus seorang pelawak atau terus-terusan membuat cerita lucu. Rasa humor yang baik artinya guru harus mampu melihat kesalahannya sendiri serta menertawakan dirinya sendiri.  Guru secara leluasa dapat mengatakan “Saya tidak tahu” dan terkadang para siswa memang mengharapkan guru mengatakan tersebut atas beberapa pertanyaan mereka.  Tapi,  guru seyogyanya menyarankan tempat yang  dapat memberikan jawaban untuk pertanyaan mereka.  Guru harus tetap optimis dan bergembira menghadapi berbagai pertanyaan-pertanyaan antusias siswa.



0 komentar :

Posting Komentar