Kamis, 28 Maret 2013

Jejak Kaki di Gunung Bromo (II)


Salah satu tujuan utama orang-orang berwisata ke Bromo adalah menyaksikan matahari terbit (sunrise). “Apa ya istimewanya melihat matahari terbit? Di kampung juga tiap hari ada matahari terbit,” ujar sebagian kawan yang enggan ke Bromo.  Tetapi alasan ini tidak meruntuhkan hasratku menjejakkan kaki di kawasan yang tekenal dengan upacara Kasadanya itu.

Nah lanjut lagi ceritanya…
Sambil menunggu saat yang tepat untuk berangkat ke Penanjakan, tempat melihat matahari terbit, kami terlibat “perdebatan kecil”  jenis tumpangan yang akan kami gunakan. Jarak Penanjakan dengan Tosari sekitar 9 km dengan kontur menanjak (namanya juga penanjakan). Ada dua pilihan yang ditawarkan warga pada kami, naik Jeep (hardtop) atau pick up (open cap). Jeep dan pick up sewanya sama Rp 600 ribu pulang pergi. Bedanya, jumlah muatannya. Kalau jeep, cuma mampu muat enam orang. Jadi, dengan rombongan sebanyak 12 orang butuh dua jeep artinya uang yang mesti disiapkan Rp 1,2 juta. Kalau pick up muat 12 orang, jadi lebih irit setengahnya. Selain itu, jeep lebih power full  sedangkan pickup gak ada yang bisa jamin. Setelah menimbang-nimbang (tak ingin terpisah-pisah dan mmmhhh beasiswa belum cair) kami memutuskan menggunakan pick up aja.
Bbbmmmmmmm, sebuah mitsubishi tua jenis L300 sudah terparkir di hadapan kami. Barang-barang bawaan seperti termos, air mineral, dan nasi, segera kami pindahkan ke atas pick up. Jadilah kami bertumpuk-tumpuk di atas mobil berwarna coklat itu. Mobil tua itu pun merayapi punggung penanjakan  dengan gagah perkasa….


Seru-seruan di atas pick up tua

                          

Sekitar setengah jam kemudian,  kami sudah tiba di bibir penanjakan. Hawa dingin menusuk tajam. Suara angin yang melesat di puncak penanjakan ini terdengar menderu. Seperti suara badai….kami betul-betul diterkam kedinginan, bbrrrrrrr. Penanjakan ini memiliki ketinggian sekitar 2700 dpl (di atas permukaan laut). Untunglah warung-warung di area ini menyiapkan tungku perapian yang mengurangi sedikit. Jaket sewaan  yang disiapkan pemilik warung pun segera berpindah tempat. Harga sewanya Rp 5000. Lumayan menghangatkan badan yang sudah berbalutkan 4 lapis kain, mulai kaos dalam, kaos luar, sweater, dan jaket.  Di tempat ini kami segera melahap nasi yang di bawa dari Malang. Hihihihhi ayamnya ikutan kedinginan. Makanya jadi keras.

Menjelang subuh, rombongan kami bergegas menuju puncak Penanjakan. Jaraknya tak sampai 50 meter. Kawasan penanjakan sangat terkenal karena merupakan point of  view paling favorit para wisatawan menyaksikan matahari terbit dan kawasan bromo dari ketinggian. Benar saja, di puncak ini sudah ada ratusan orang. Namun sebelum benar-benar stay, kami shalat subuh dulu. Sebenarnya aku ingin tayammun aja saking enggannya bersentuhan dengan air. Tapi tidak ada alasan bertayammun kalau air tersedia, makanya aku mengikhlaskan diri mengambil air wudhu….brbbrrrrrrrr airnya duuuiiiingiiiiiiin,  Shalat subuh pun sukses terlaksana walaupun tubuh gemetaran.

Sekarang tiba saatnya mencari posisi yang tepat mengabadikan momen sunrise. Area untuk melihat matahari terbit dipagari dengan terali besi untuk mencegah hal-hal buruk. Aku bersama  Hamzah menyelinap di antara puluhan orang. Rupanya, selain wisatawan domestik, banyak juga pelancong dari luar negeri seperti eropa dan China (mungkin Korea juga, gak bisa bedain). Melihat orang-orang pada banyak menggunakan kamera DSLR, aku jadi segan mengeluarkan kamera digitalku yang sudah butut.  Namun ternyata, yang menggunakan kamera hp tak kalah banyaknya. Ini dia beberapa momen indah di Penanjakan...  

"The Amazing Sunrise" Matahari yang terbit dari balik Gunung Arjuna
                                                    

Gunung Bromo dan Gunung Batok dengan Latar Gunung Semeru Dilihat dari Puncak Penanjakan


0 komentar :

Posting Komentar